Jakarta – Pabrikan otomotif multinasional, Stellantis mencatat kerugian bersih yang sangat besar untuk 2025, setelah melakukan penyesuaian strategis terhadap mobil listrik.

Disitat dari Drive, perusahaan melemah secara finansial, dengan total rugi mencapai 22,3 miliar euro atau setara Rp 379 triliunan dan menjadi sebagai salah satua periode paling buruk dalam sejarah kinerja keuangan perusahaan.

Kerugian ini terutama mencerminkan biaya luar biasa yang dibebankan pada paruh kedua 2025, terkait dengan perubahan signifikan pada arah investasinya terhadap kendaraan listrik.

Manajemen mencatat bahwa biaya tersebut termasuk pembatalan model EV yang sedang dikembangkan, penyesuaian rantai pasok, serta restrukturisasi tenaga kerja di Eropa dan pembukuan cadangan garansi yang lebih besar.

CEO Stellantis, Antonio Filosa menyatakan bahwa hasil penuh 2025 menggambarkan biaya karena terlalu memperkirakan laju transisi energi, dan kebutuhan untuk mereset bisnis agar lebih sesuai dengan preferensi pelanggan.

Filosa juga menekankan bahwa strategi baru akan memberi konsumen pilihan lebih luas, termasuk kendaraan listrik, hibrida, dan mesin pembakaran internal.

Meskipun garis besar angka menunjukkan kerugian besar, Stellantis mengklaim bahwa pada paruh kedua 2025 terdapat beberapa perkembangan positif.

Penjualan unit mobil meningkat hingga dua digit, dan pendapatan bersih menunjukkan pertumbuhan, menandakan pemulihan awal setelah restrukturisasi strategis yang dalam.

Perubahan Arah Strategi

Perubahan strategi ini juga berdampak pada beberapa model populer, rencana produksi untuk beberapa varian EV dibatalkan, sementara model dengan mesin pembakaran internal seperti pickup dan mobil SUV konvensional kembali ditonjolkan.

Selain itu, perusahaan memutuskan untuk tidak membagikan dividen tahunan kepada pemegang saham sebagai bagian dari upaya menjaga likuiditas.

Secara keseluruhan, langkah besar Stellantis menggeser fokus dari dominasi EV penuh menuju pendekatan yang lebih seimbang antara listrik, hibrida, dan mesin bensin atau diesel menunjukkan tantangan yang dihadapi pembuat mobil global dalam menavigasi perubahan permintaan pasar, dan kebijakan energi yang terus bergeser.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *